Catatan Refleksi Hari Kemerdekaan Indonesia

0

Pengurus Cabang IKA-PMII Jember mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merefleksikan kembali makna kemerdekaan melalui sebuah keterangan tertulisnya yang dikeluarkan bertepatan pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-75, pada Senin (17/8).

Ketua PC IKA-PMII Jember, Akhmad Taufiq dalam keterangan rilis resminya mengungkapkan bahwa kemerdekaan sebuah bangsa merupakan anugerah yang wajib disyukuri.

“Kemerdekaan bagi IKA-PMII mengandung amanah dan tanggung jawab untuk menjaga dan mengoptimasi tujuan fundamental kemerdekaan itu sendiri, yakni mampu membangun masyarakat damai, aman, adil, dan sejahtera, dengan prinsip terjaminnya harkat dan martabat sebagai warga negara,” ungkapnya.

Untuk merefleksikan HUT Kemerdekaan RI Ke-75, IKA-PMII Jember menyampaikan 5 catatan refleksi kemerdekaan sebagai berikut;

Pertama, pengungkapan rasa syukur sedalam-dalamnya atas kemerdekaan Indonesia merupakan suatu kewajiban yang mutlak bagi setiap warga negara apapun posisinya, dengan tetap menjunjung tinggi penghormatan atas jasa para pejuang yang mendahului kita, sekaligus dapat mengemban amanah dan tanggung jawab sebaik-baiknya atas kemerdekaan sebagai bangsa. Melalaikan amanah dan tanggung jawab dapat berkonsekuensi pada pendistorsian makna kemerdekaan itu sendiri.

Ke Dua, untuk itu sebagai konsekuensinya, perwujudan masyarakat Indonesia yang damai, aman, adil, dan sejahtera merupakan cita-cita ideal yang perlu terus diikhtiari sebagai ikhtiar bersama sebagai bangsa.

Ke Tiga, bahwa sampai saat ini masih terdapat kelompok masyarakat yang mengoyak kehidupan damai, maka negara harus hadir dan sekaligus memberikan sikap tegas yang secara hukum diabsahkan. Kelompok masyarakat yang suka mengoyak kehidupan damai itu dapat digolongkan sebagai kelompok intoleran yang perlu disegera dihentikan. Peristiwa di Solo yang baru-baru ini terjadi adalah bukti masih eksisnya kelompok intoleran tersebut yang perlu mendapat sikap tegas dari negara. Sebagai negara multikultural yang menjunjung tinggi persamaan hak dan toleransi, peristiwa di Solo tersebut semestinya tidak boleh terjadi.

Ke Empat, bahwa pada saat ini kita sebagai bangsa mendapat ujian berat dari Allah. Pandemi Covid-19, bagaimanapun menjadi problem tersendiri yang mampu meluluhlantakkan hampir semua struktur sosial-ekonomi kita. Bersamaan dengan itu, pada tahun ini terdapat momentum pilkada yang diselenggarakan di beberapa daerah. Oleh karena itu, IKA-PMII Jember menyeru dengan sangat agar pada moment politik di masa Pandemi Covid-19 ini tidak terjadi proses politisasi, yang mengakibatkan gagalnya penanganan Covid-19, yang kemudian dapat berakibat lebih kompleks. Misalnya, terjadinya politisasi anggaran Covid-19 untuk agenda-agenda politik tertentu, yang itu sangat merugikan masyarakat.

Ke Lima, bahwa sense of crisis di masa Pandemi Covid-19 sangat dibutuhkan semua pihak, terutama penyelenggara negara, dengan melakukan langkah-langkah yang cepat dan saksama untuk meringankan beban hidup masyarakat di tengah masa pandemi ini. Kebijakan stimulus dan insentif ekonomi bagi masyarakat kecil sangat dibutuhkan. Bersamaan dengan itu percepatan dan penguatan fundamental ekonomi perlu segera dilakukan dan tidak dapat ditawar-tawar.

Catatan refleksi Kemerdekaan oleh PC IKA-PMII Jember ditutup dengan harapan, semoga semua pihak dapat mengambil peran strategis pada masa pandemi ini.

Share.

About Author

Redaktur pelaksana website PC IKA-PMII Jember. IKA PMII Jember Merupakan wadah bagi alumni dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia untuk wilayah Jember dan Sekitarnya

Comments are closed.