Bupati Faida Tidak Menemui Pengunjuk Rasa

0

Peristiwa unjuk rasa mahasiswa bersama petani yang akhirnya bentrok dengan polisi dipicu tuntutan bertemu Bupati Jember Faida tidak digubris.

Enam mahasiswa dan seorang Satpol PP sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena terluka saat insiden pada Senin, 9 Maret 2020.

Bupati Faida buka suara menyampaikan alasannya tidak menemui para pengunjuk rasa.

“Bupati telah menegur PT. Semen Imasco Asiatic di Puger dan memerintahkan perusahaan semen tersebut untuk mengembalikan saluran air ke posisi awal,” terang Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Jember Gatot Triyono dalam keterangan tertulisnya.

Teguran Bupati, lanjut dia, seperti yang tertera dalam surat Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air Jember Yessiana Arifa yang ditandatangani tanggal 19 Februari 2020.

“Agar tidak meresahkan masyarakat Puger, dikarenakan belum ada izin resmi pemindahan saluran,” ujar Gatot mengutip kalimat dalam surat tersebut.

Ia menjelaskan, bahwa masa uji coba teknis pemindahan Saluran II Puger Daerah Irigasi Bedadung telah selesai pada tanggal 13 Februari 2020.

“Maka saudara (PT Semen Imasco Asiatic) wajib menutup kembali aliran air yang mengalir di saluran baru dan mengembalikan kondisi saluran tersebut sebagaimana kondisi awal,” sebutnya.

Surat juga ditembuskan ke sejumlah pihak terkait, seperti Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Brantas Surabaya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air ProvinsiJawa Timur, maupun Kepala Bakorwil V Jember.

Gatot berpendapat surat tersebut menunjukkan Bupati sudah mengambil langkah antisipasi terhadap problem yang dihadapi oleh masyarakat Puger.

“Apabila hasil uji coba tidak berhasil, maka tugas PT Semen Imasco Asiatic mengembalikan ke konsep saluran awal disesuaikan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Selain itu, alasan Bupati Faida tidak menemui pengunjuk rasa, sergah Gatot lantaran sudah mewakilkannya kepada Yessiana Arifa.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jember Baijuri menyesalkan Bupati Faida yang berada di pendopo enggan mendengar langsung aspirasi demonstran.

Akibatnya, pengunjuk rasa memaksa masuk ke Kantor Pemkab Jember untuk bisa bertemu dengan Bupati Faida.

Saat itulah aksi demonstran berujung kerusuhan dan bentrokan dengan aparat yang melarang mahasiswa masuk ke area tersebut.

“Kami sepakat aksi damai. Tapi, (karena Bupati tidak menemui) itulah yang membuat sahabat-sahabat kesal,” ungkap Baijuri.

Sumber: nusadaily.com

Share.

About Author

Redaktur pelaksana website PC IKA-PMII Jember. IKA PMII Jember Merupakan wadah bagi alumni dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia untuk wilayah Jember dan Sekitarnya

Comments are closed.