Good Corporate Governance

4

Wacana yang berkaitan dengan permasalahan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance/GCG) lahir sebagai akibat dari adanya krisis ekonomi global yang berimbas pada krisis ekonomi di asia tenggara, termasuk Indonesia. Good Corporate Governance menjadi bahasan yang penting dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi dan pertumbuhan perekonomian yang lebih stabil dimasa yang akan datang. Keterpurukan luar biasa yang disebabkan peristiwa tersebut telah membuka mata bangsa ini bahwa salah satu faktor paling fundamental yang menyebabkan krisis itu terjadi tidak lain dikarenakan prinsip-prinsip GCG diabaikan atau cenderung dihindari.

Pada prinsipnya corporate governance menyangkut mengenai kepentingan para pemegang saham, perlakuan yang sama terhadap pemegang saham, peranan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam corporate governance, transparansi dan penjelasan, serta peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit. GCG diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien, transparan dan konsisten dengan peraturan dan undang-undang (Winda, 2013:pp.1-20). Pendapat ini memposisikan GCG sebagai suatu prinsip yang mencakup semua elemen, bukan hanya perusahaan secara internal namun juga pihak eksternal sebagai bagian dari secara menyeluruh dengan sistem pengelolaan suatu perusahaan.

Lebih lanjut Winda (2013:pp.1-20) menjelaskan bahwa Penerapan GCG perlu didukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu negara dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha. Peran tiga pilar ini menjadi suatu keharusan agar penerapan dan pelaksanaan GCG bisa maksimal. Mengabaikan salahsatunya hanya akan menyebabkan penerapan ini tidak maksimal, atau bahkan cenderung melenceng dari prinsip-prinsip yang diharapkan berjalan dalam GCG.

Menjadi sebuah ironi ketika banyak negara di asia tenggara mulai bangkit dengan penerapan GCG secara maksimal, Indonesia justru tetap terpuruk karena persoalan internal dan kompetisi antar korporasi masih belum sehat. Hasil kajian Booz-Allen (dalam Kaihatu, 2006:pp.1-9) menjelaskan bahwa di Asia Timur pada tahun 1998 Indonesia memiliki indeks corporate governance paling rendah dengan skor 2,88 jauh di bawah Singapura (8,93), Malaysia (7,72) dan Thailand (4,89).  Rendahnya kualitas GCG korporasi-korporasi di Indonesia ditengarai menjadi kejatuhan perusahaan-perusahaan tersebut (Kaihatu, 2006:pp.1-9).

Tidak dipungkiri bahwa GCG telah mampu meningkatkan kinerja perusahaan. Hasil kajian Winda (2013:pp.1-20) menyimpulkan bahwa GCG secara signifikan mampu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan yang dilihat berdasarkan ROA dan ROE. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh Gozali (2012:pp.38-43) dimana disimpulkan bahwa Penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan kualitas laba dengan memperhatikan kepentingan stakeholders. Tidak jauh berbeda dengan hasil yang disampaikan oleh Suci (2013:pp.1-6) dimana disimpulkan bahwa prinsip-prinsip Good Corporate Governance bepengaruh secara signifikan terhadap kinerja perusahaan.

Selama ini, pengukuran kinerja perusahaan cenderung lebih memfokuskan terhadap sisi keuangan saja. Kecenderungan seperti ini berdampak kurang baik terhadap sustainabilitas bisnis perusahaan (Suci, 2013:pp.1-6). Fokus kajian terhadap kualitas perusahaan masih pada dimensi keuangan, sementara untuk dimensi planet dan people masih jarang dilakukan atau bahkan belum ada yang melakukan penelitian secara komprehensif. Padahal konsepsi tentang bisnis ketika dikaitkan dengan sustainabilitas selalu disandarkan pada tiga hal yaitu : Profit, Planet dan people.

Respon pembaca

40%
40%
Awesome
  • 4
  • User Ratings (1 Votes)
    9.6
Share.

About Author

Redaktur pelaksana website PC IKA-PMII Jember. IKA PMII Jember Merupakan wadah bagi alumni dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia untuk wilayah Jember dan Sekitarnya

4 Comments